Pengaruh Penambahan Tepung Ulat Kandang (Alphitobius diaperinus) pada Ransum Terhadap Kualitas Telur Burung Puyuh (Cortunix cortunix japonica)

Supplementary Files

ARTICLE
SIMILARITY

Keywords

Burung Puyuh, Kualitas Telur, Ulat Kandang Keyword: Quail, Egg Quality, Cage Caterpillars

How to Cite

Bagus Wijayanto, I., Wahyuni, W., & Soemarsono, Q. C. K. N. (2020). Pengaruh Penambahan Tepung Ulat Kandang (Alphitobius diaperinus) pada Ransum Terhadap Kualitas Telur Burung Puyuh (Cortunix cortunix japonica). International Journal of Animal Science, 3(03), 86 - 91. https://doi.org/10.30736/ijasc.v3i03.22

Abstract

Burung puyuh menjadi salah satu komoditas usaha ternak unggas sebagai penghasil telur serta daging yang memiliki potensi besar di Indonesia. Pakan merupakan salah satu faktor dari 70% dari total biaya pemeliharaan yang utama dalam pemeliharaan puyuh. Biasanya para peternak puyuh memakai pakan komersial sebagai pakan namun harga pakan komersial relatif mahal. Oleh karena untuk mengatasihal tersebut pemberian salah satu bahan pakan alternatif sumber protein untuk mengurangi biaya pakan. Ulat kandang mempunyai kandungan protein kasar 48%, kadar abu 3%, lemak kasar 40% serta kandungan ekstrak non nitrogen 8%, sedangkan kandungan airnya mencapai 57%. Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan yaitu selama bulan Maret – April 2019. Pemeliharaan dilakukan di kandang UPT Agri Science Tehnopark Universitas Islam Lamongan yang beralamatkan Jl. Veteran No. 53 A Lamongan. Tujuan penelitiann ini ialah untuk menlihat adakah pengaruh penambahan tepung ulat kandang pada ransum terhadap kualitas telur (indeks telur, warna kuning telur, dan tebal kerabang) puyuh petelur. Metode penelitian memakai rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan, 3 pengulangan dan setiap pengulangan menggunakan 10 ekor puyuh dengan jenis kelamin betina. Adapun perlakuan P0: 0%, P1: 1%, P2: 2%, dan P3: 3% dalam ransum pakan puyuh petelur. Hasil penelitian menunjukan bahwa rataan indeks telur puyuh selama penelitian pada perlakuan P0 (78,59±0,80 mm), P1 (78,68±0,51 mm) P2 (78,29±0,73 mm), dan P3 (77,91±0,24 mm). Rataan tebal kerabang telur P0 (0,20±0,00 mm), P1 (0,21±0,01 mm), P2 (0,20±0,00 mm), dan P3 (0,20±0,00 mm). Rataan warna kuning P0 (6,19±0,34) P1 (6,00±0,17) P2 (6,39±0,46) dan P3 (6,33±0,44). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengaruh penambahan tepung ulat kandang (Alphitobius diaperinus) dengan taraf 1%, 2%, 3% pada ransum terhadap kualitas telur (indeks telur, warna kuning telur, dan tebal kerabang) burung puyuh petelur (Coturnix coturnix japonica) secara statistik tidak berpengaruh nyata (P>0.05) pada setiap perlakuanya akan tetapi secara numerik hasil penelitian cenderung naik seirin dengan penambahan taraf tepung ulat kandang 1-3%.

https://doi.org/10.30736/ijasc.v3i03.22

References

Aan. 2011. Pengaruh Pemberian Tepung Daun Katuk (Sauropus Androgynus) dan Murbei (Morus Sp.) Terhadap Serum Kolesterol Dan Hormon Progesteron Pada Puyuh. Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi Dan Teknologi PakanFakultas PeternakanInstitut Pertanian Bogor. Bogor.

Anggorodi, 1985. Kemajuan Mutakhir Ilmu Makanan Ternak Unggas. Penerbit Universitas Indonesia (UI I-Press), Jakarta.

Bell, D. D. & W. D. Weaver, Jr. 2002. Commercial Chiken Meat and Egg Production 5th Edition. Springer Science and Busines Media Inc. New York.

Bening I, 2011. Bobot, Komposisi Fisik, dan Kualitas Interior Telur Puyuh (Coturnix- coturnix Japonica) yang Diberi Suplemen Omega-3. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi Peterenakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

BoozerW. E. 2011. Insecticide susceptibility of the adult darkling beetle, Alphitobius diaperinus (Coleoptera: Tenebrionidae): topical treatment with bifenthrin, imidacloprid, and spinosad. [Tesis]. Athens (GE): University of Georgia.

Dinev I. 2013. The darkling beetle (Alphitobius diaperinus) a health hazard for broiler chicken production. Trakia Journal of Sciences. 11 (1):1-4.

Djulardi, dkk. 2006. Nutrisi Aneka Ternak dan Satwa Harapan. Andalas University Pres, Padang.

Dunford dan Kaufman 2006. Lesser Mealworm, Litter Beetle, Alphitobius diaperinus (Panzer) (Insecta: Coleoptera:Tenebrionidae). Florida (US): Institute of Food and Agricultural Sciences. University of Florida.

Gunawan dan Sundari,2003. Pengaruh pemberian probiotik dalam ransum terhadap produktivitas ayam. Wartozoa 13(3):9298.

Heranita, N. A. 1998. Pengaruh penggunaan konsentrat asam lemak Omega-3 dan sumber lemak lain dalam ransum terhadap konsentrasi kolesterol komponen asam lemak telur dan perfoma puyuh petelur. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sihombing, G., Avivah & S. Prastowo. 2006. Pengaruh penambahan zeolit dalam ransum terhadap kualitas telur burung puyuh. J. Indon. Trop. Anim. Agric. 31(1): 28-31.

Indah, E. 1989. Studi pengaruh imbangan protein energi dan waktu deposit telur terhadap karakteristik telur puyuh. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Karyadi, dkk. 2003. Pemberian Rasio Kalsium dan Fosfor Terhadap Osifikasi Tulang Embrio Puyuh (Conturnix-conturnix Japonica). Jurnal Penelitian UNIB, Bengkulu. 2: 76-80.

Lacy, M.& L. R. Veast.2000. Improving feed Conversion in Broiler: A Guide for Growers. Spingers Science and Busines Media Inc. New York.

Listiyowati E, Roospitasari K. 2000. Burung Puyuh Tata Laksana Budidaya secara Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.

Murtidjo, 1987. Pedoman meramu pakan Unggas. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Nataliyus, Edhy Sudjarwoand Adelina Ari Hamiyanti. 2015. The Effect of Addition Leucaena Leaf Meal (Leucaena leucocephala) On Feed Consumption, Egg Production, and Feed Conversion of Quail (Coturnix coturnix japonica). Student of Animal Husbandry Faculty, Brawijaya University. Malang.

National Rsearch Council. 1994. Nutrient Requirments of Poultry. 9th resived edition. National Academic Prees,Wasinton DC.

Nesheim, M. C. R. E. Austic dan L. E. Card, 1879. Poultry Production. 12 ed. Lea and Febiger, Philadelphia.

Nitis, 1984. Nutrien Requirement of Poultry. 9 rev. ed. National Academy Press, Wasshington D. C.

Puyuh jaya. 2011. Istilah-istilah dalam Peternakan Ayam Petelur (Puyuh). https://puyuhjaya.wordpress.com/12/24/istilah-istilah-dalam-peternakan-ayam-petelur-puyuh

Radiopoetra. 1996. Biologi. Jakarta: Erlangga Rahayu 2003. Karateristik fisik, komposisi kimia dan uji organoleptic telur ayam merawang dengan pemberian pakan bersuplemen

Rasyaf, M. 1991. Memelihara Burung Puyuh Cetakan Kesembilan. Yayasan Kanisius. Yogyakarta.

Redaksi Agromedia, 2002. Puyuh Sikecil penuh potensi. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Rees D. 2007. Insect of Stored Grain. 2nd Edition. Collingwood (AU): CSIRO Publishing.

Rizal, 2006. Ilmu Nutrisi Unggas. Yogyakarta: Andalas University Press.

Romanoff, A.L & A. Romanoff. 1963. The Avian Egg. John Wiley and Sons, New York. (Ewing, 1963).

Stadelman, W. J. & O. J. Cotterill. 1995. Eggs Science and Technology. 4thEd.The Avy Publishing, Inc., Westport, Connecticut.

Steel, R. G. D., dan J. H. Torrie. 1993. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan Biometrik. Terjemahan: M. Syah. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Sugiyono.2010. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alabeta.

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Copyright (c) 2021 Array